Disebut demikian karena penempuh jalan pada pos ini mulai membangun keteguhan jiwa dan memperbaiki perangkat lahirnya.
Tanpa menyelesaikan lintasan-lintasan pada pos ini tidak mungkin dapat sampai kepada pos terakhir dalam perjalanan menuju Allah.
Tahap ini dipandang selesai manakala hamba telah menunaikan perintah Allah dengan ikhlas, menetapi sunnah Rasul, mengagungkan larangan Allah karena takut kepada Allah, menjaga kehormatan dan mengasihi sesama penempuh jalan makrifat dengan nasehat dan membantu mencukupi keperluan mereka, menjauhi pertemanan dan pergaulan yang dapat merusak kontinyuitas wirid dan zikir, dan menjauhi setiap yang menyebabkan rusaknya kondisi hati.
Tanpa menyelesaikan lintasan-lintasan pada pos ini tidak mungkin dapat sampai kepada pos terakhir dalam perjalanan menuju Allah.
Tahap ini dipandang selesai manakala hamba telah menunaikan perintah Allah dengan ikhlas, menetapi sunnah Rasul, mengagungkan larangan Allah karena takut kepada Allah, menjaga kehormatan dan mengasihi sesama penempuh jalan makrifat dengan nasehat dan membantu mencukupi keperluan mereka, menjauhi pertemanan dan pergaulan yang dapat merusak kontinyuitas wirid dan zikir, dan menjauhi setiap yang menyebabkan rusaknya kondisi hati.
Ikhlas dalam menunaikan perintah Allah dan menetapi sunnah Rasul dalam tahap ini adalah tidak menghitung-hitung jenis amaliah yang diperintahkan, kadar pahalanya maupun kepentingan-kepentingannya, tetapi ditunaikan karena memandang kepada Allah semata.
Pos albidāyah terdiri dari sepuluh lintasan, dimana hamba yang ingin membebaskan diri dari kelalaian dan kebodohan, pertama-tama terjaga dari keterlenaan (inilah lintasan pertama, alyaqzhah), kemudian dia berhenti dari berbuat dosa (inilah lintasan kedua, attawbah), lalu dia memeriksa apa yang dilewatkannya selama ini (lintasan ketiga, almuhāsabah), selanjutnya secara bertahap dia mulai menempuh lintasan-lintasan berikutnya, hingga lintasan kesepuluh, dimana hamba kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan memohon pengampunan serta keuzuran (lintasan keempat, al inābah), kemudian dia bertafakur dan berzikir untuk mendapatkan kembali kemurnian kekuatan-kekuatan batiniah yang selama ini tertutupi (lintasan kelima dan keenam, attafakkur dan attadzakkur), lalu dia berteguh diri dalam takwa dengan penuh kewaspadaan agar tidak kembali terjerumus kepada sifat-sifat jelek (lintasan ketujuh, al i'tishām), selanjutnya dia menjauhi tempat-tempat yang dapat merusak kebaikan yang telah diusahakannya dan hal-hal yang dapat menenggelamkannya dalam riya dan bersenang hati padahal tujuan belum lagi tercapai (lintasan kedelapan, alfirār), terus dia melatih jiwanya dan mengendalikannya agar teguh menunaikan ibadah (lintasan kesembilan, arriyādhah), terakhir dia senantiasa menyimak dengan baik nasehat dan peringatan-peringatan yang diuraikan oleh Allah dalam Alquran yang agung, hadis-hadis yang sahih, dan atsar-atsar orang-orang yang saleh dan banyak berbuat kebaikan (lintasan kesepuluh, assamā’).
bersambung ke lintasan alyaqzhah.
Pos albidāyah terdiri dari sepuluh lintasan, dimana hamba yang ingin membebaskan diri dari kelalaian dan kebodohan, pertama-tama terjaga dari keterlenaan (inilah lintasan pertama, alyaqzhah), kemudian dia berhenti dari berbuat dosa (inilah lintasan kedua, attawbah), lalu dia memeriksa apa yang dilewatkannya selama ini (lintasan ketiga, almuhāsabah), selanjutnya secara bertahap dia mulai menempuh lintasan-lintasan berikutnya, hingga lintasan kesepuluh, dimana hamba kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan memohon pengampunan serta keuzuran (lintasan keempat, al inābah), kemudian dia bertafakur dan berzikir untuk mendapatkan kembali kemurnian kekuatan-kekuatan batiniah yang selama ini tertutupi (lintasan kelima dan keenam, attafakkur dan attadzakkur), lalu dia berteguh diri dalam takwa dengan penuh kewaspadaan agar tidak kembali terjerumus kepada sifat-sifat jelek (lintasan ketujuh, al i'tishām), selanjutnya dia menjauhi tempat-tempat yang dapat merusak kebaikan yang telah diusahakannya dan hal-hal yang dapat menenggelamkannya dalam riya dan bersenang hati padahal tujuan belum lagi tercapai (lintasan kedelapan, alfirār), terus dia melatih jiwanya dan mengendalikannya agar teguh menunaikan ibadah (lintasan kesembilan, arriyādhah), terakhir dia senantiasa menyimak dengan baik nasehat dan peringatan-peringatan yang diuraikan oleh Allah dalam Alquran yang agung, hadis-hadis yang sahih, dan atsar-atsar orang-orang yang saleh dan banyak berbuat kebaikan (lintasan kesepuluh, assamā’).
bersambung ke lintasan alyaqzhah.





Assalamualaikum..
BalasHapussemoga seluruh hambaNya, termasuk saya dan akhi jayadi gusti diberi kemampuan tuk dapat menempuh kesepuluh lintasan albidāyah.. amin.. ^_^
salam silahturahmi blogger akhi, terimakasih telah berkunjung ke blog ilmu_air, maaf niy saya baru sekarang mampirnya dan ga langsung balik berkunjung ke blognya akhi setelah akhi meninggalkan jejak di blog saya, karena blog saya juga jarang saya update akhi.. ^_^