Sesungguhnya Tuhan memerintahkan kamu semua agar berkeadilan, berkebajikan dan berkepedulian terhadap sesama. Dan Dia membenci setiap kekejian, kemungkaran dan permusuhan!

18 Agustus 2009

BILA PARA PENDAHULU KITA SAUM

Mungkin ... sedikit mengingat bagaimana para pendahulu kita bersaum, dapat menambah kesiapan kita menjalani Ramadhan yang segera tiba. Selamat. Semoga Allāh menyampaikan kita kepada derajat takwa yang lebih tinggi dari takwa kita saat ini.


Mereka Benar-benar Menjaga Sunnah
Mereka sahur karena merupakan sunnah. Mereka mengharap berkah dengan makan sahur, dan membuat tubuh kuat melaksanakan saum.

Rasūlullāh bersabda: “Bersahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur terdapat berkah.”(1)

Mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka juga karena merupakan sunnah, sehingga tidak pernah mereka menunda-nunda berbuka hingga lewat waktu isya.

Zaid ibn Tsābit bercerita: “Kami sahur bersama Rasūlullāh, lalu bangun untuk shalat subuh.” Ketika ditanya berapa jarak antara bersahur dengan shalat subuh, dia menjawab: “Sekadar orang membaca 50 ayat.”(2)

Rasūlullāh bersabda bahwa Allāh ta’ālā telah berfirman: “Hamba yang paling Kusukai ialah yang paling bersegera berbuka apabila sudah waktunya.”(3)

“Manusia itu selalu dalam kebaikan selama mereka segera berbuka apabila sudah waktunya.”(4)

Malah sebagian dari mereka berbuka sebelum melaksanakan shalat magrib, karena merupakan sunnah pula.

“Rasūlullāh berbuka sebelum shalat magrib dengan ruthāb (korma basah), kalau tidak dengan tamr (korma yang sudah dikeringkan), atau dengan air minum secukupnya,” begitu menurut Anas ibn Mālik.(5)

Mereka Tidak Berlebihan Mengkonsumsi Makanan-makanan Yang Dibolehkan
Kalau yang haram dan mengandung dosa sih sudah pasti telah mereka tinggalkan jauh-jauh.

Para guru yang saleh bermaksud mengendalikan nafs (elemen jahat dalam diri) dengan saum, dan mereka hendak mencegah diri dari kerusakan akibat selera makan yang dituruti. Karena itu mereka makan secukupnya, sewaktu sahur maupun berbuka, sekadar membuat tubuh kuat untuk melaksanakan ibadah. (Lihat penjelasan Yahya ibn Mu’ādz pada postingan terdahulu).

Mereka Beretika Lahir Batin
Mereka menahan segenap anggota badan dari berbuat dosa, sebagaimana mereka menahan diri dari berlebihan mengikuti selera perut atau mengangan-angankan nikmatnya berbuka kalau dengan makanan tertentu (segelas limun dingin, semangkuk kolak hangat, nasi putih panas, sambal, sayur, daging, dan ratusan makanan dan minuman lain yang dapat dibayangkan oleh selera umumnya orang yang saum).

Para guru yang saleh, kalau saum, apabila terbetik keinginan untuk berbuka dengan jenis makanan tertentu, maka pada saat berbuka, mereka tidak akan menyantap makanan tersebut meski dihidangkan bagi mereka secara cuma-cuma.

Mereka Memperhatikan Dengan Seksama Arah Perubahan-perubahan Suasana atau Kecenderungan Jiwa
Setiap kali mereka dapati perubahan suasana dan kecenderungan jiwa yang bisa mengarah kepada menyia-nyiakan atau menggampangkan urusan ibadat, maka segera mereka melawannya dengan membawa jiwa kepada suasana dan kecenderungan lain yang positif. Misalnya dorongan untuk menikmati secara berlebihan makanan berbuka, mereka putuskan dengan melaksanakan dua rakaat shalat, atau membaca beberapa ayat Al-Qur-ān, atau berdzikir dan beristigfar, sebagaimana yang diberitakan dalam sebuah hadis: “Putuskanlah keinginan makan kalian dengan dzikir.”(6)

disadur dari:
Kitab ‘Awārif al-Ma’ārif
Al-Bāb al-Hādiy wa al-Arba’ūn
Fī Ādāb ash-Shawm wa Mahāmihi

(1) Hadis Bukhāriy dan Muslim dari Anas ibn Mālik.

(2) Hadis Bukhāriy dan Muslim.

(3) Hadis Turmudziy dari Abī Hurairah.

(4) Hadis Bukhāriy dan Muslim dari Sahl ibn Sa’d.

(5) Hadis Abū Dāwud dan Turmudziy. ‘Āisyah membenarkan dua orang sahabat Nabi yang berbeda waktu berbukanya; satu berbuka sebelum shalat magrib, yang lainnya sesudah shalat magrib. “Begitulah yang dilakukan Rasūlullāh,” kata ‘Āisyah.

(6) Adzībū tha’āmakum bidz-dzikri. Sumbernya tidak disebutkan oleh Suhrāwardiy, pengarang kitab ‘Awāriful-Ma’ārif, dan kami pun kesulitan untuk menelusurinya.

Selengkapnya...

12 Agustus 2009

AGAR SAUM ITU BAIK

Separo Sya’ban sudah berlalu (selepas malam kamis, 5 Agustus 2009). Ramadhan pun tinggal hitungan hari lagi. Kegembiraan, iman dan kesiapan kita memasuki Ramadhan, menjadi modal penting untuk menuai sukses di dalamnya, dengan saum dan semua kebaikan yang kita kerjakan.

Sabda Rasul SAW.: “Sabar adalah separo iman, dan saum itu separo sabar.”(1)

Firman Allāh: “as-sā-ihūna,” oleh sebagian Muslim difahami sebagai “mereka yang saum”(2); karena dengan menanggung lapar dan dahaga, orang-orang yang saum sebenarnya tengah mengunjungi Allāh Ta’ālā.

Begitu pula orang-orang yang bersaumlah yang dimaksud oleh ayat: “Sesungguhnya hanya mereka yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”(3) Sebab “sabar” adalah nama lain dari saum dan yang akan dituai oleh orang yang saum.

Untuk semua kebaikan saum itu, maka ...

Saum Itu Harus Berlaku Sederhana Dan Cermat Dalam Soal Makan Dan Minum
Yahya ibn Mu’ādz(4) mengatakan: “Ketika murīd (seseorang yang telah memiliki keinginan kuat untuk menempuh jalan Tuhan) dihinggapi oleh berlebih-lebihan dalam soal makan, menangislah Malaikat lantaran sayang kepadanya, sebab siapapun yang terkena penyakit rakus dalam soal makanan, api syahwat pasti akan menggelora, dan nafsunya akan membuat seluruh anggota badannya lemah menghadapi keinginan-keinginan jahat dan malas berbuat kebaikan. Semua itu menjadi senjata yang cukup ampuh bagi Setan untuk menguasainya.”

Namun, apabila murīd berlaku sederhana dan cermat dalam soal apa yang masuk ke perutnya, dan biasa mengosongkan perutnya kecuali sekedar yang dibutuhkan untuk melaksanakan perintah Tuhan, maka kelemahan dan kemalasan akan sirna, begitu pula gelora syahwatnya, dan Setan pun akan tersingkir sejauh-jauhnya.

Dan jika murīd kenyang tanpa mengumbar selera makannya, niscaya badannya menjadi bugar, dan Setan pun akan mudah dikendalikannya.

Memenuhi perut dengan makanan sesuka hati, menjadikan nafs (elemen jahat) membanjiri diri, dan membuat Setan kembali berkuasa atasnya. Sedangkan mengosongkan perut dari makanan berlebihan dan tidak perlu, mengalirkan energi positif rūh ke seluruh tubuh, dan membuat Malaikat kembali memenuhi jiwa dengan berbagai kebaikan.

Namun demikian, Setan tetap akan berusaha mengalahkan orang yang mengosongkan perutnya, dengan rasa kantuk (seperti yang biasa menimpa kita di siang hari bulan Ramadhan. Lantai Masjid dipenuhi tubuh-tubuh yang bergeletakan, dan menguap menjadi kegiatan rutin tambahan yang paling sering terjadi). Kalau yang mengosongkan perutnya saja masih bisa dilemahkan semangatnya dengan kantuk, apalagi yang perutnya penuh? Maka hendaklah murīd bersungguh-sungguh minta tolong kepada Allāh Ta’ālā dalam soal makan dan minum.

Saum Itu Harus Menjaga Lidah Dan Anggota Badan Lainnya Dari Hal-hal Yang Sia-sia
Rasūlullāh bersabda: “Jika kamu saum, jangan berkata keji (rafats) dan jangan mengumbar amarah (shakhb).”(5)

“Siapa yang tidak meninggalkan kata-kata ataupun perbuatan sia-sia (zūr), maka Allāh tidak membutuhkan puasanya.”(6)

Sebagian Muslim memahami keterangan: “Berapa banyak orang yang saum dan yang diperoleh hanyalah lapar dan dahaga saja,”(7) merujuk kepada orang yang menahan diri dalam yang dihalalkan, tetapi berbuka dengan daging sesama lantaran menggunjing orang.

Abū Thālib Al-Makkiy(8) berpendapat bahwa Tuhan menyamakan mendengar-dengarkan kebohongan dengan menyantap makanan atau minuman yang haram, sehingga Dia berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, menyantap yang haram.”(9)

Saum Itu Harus Bisa Mempertahankan Kebaikan Yang Sudah Dicapai
Hafshah puteri ‘Umar ibn l-Khaththāb pernah berkata kepada ayahnya: “Allāh sudah melapangkan rizki anda, menurutku wajar kalau anda menambah lebih banyak ragam makanan, dan mengenakan pakaian yang lebih mewah dari yang biasa anda kenakan.” Jawab ‘Umar: “Aku benar-benar menentang keinginanmu itu! Adakah Rasūlullāh pernah menganjurkannya?” ‘Umar mengulang kata-katanya ini sampai dua kali, lalu dia menangis. Katanya: “Aku kasih tahu kamu, demi Allāh. Rahasia kasih-Nya lebih jelas bagiku dalam hidup yang bersahaja daripada tersembunyinya musibah di balik hidup mewah.”

Allāhu a’lam bish-shawāb. Bagi ‘Umar, musibah atas iman dalam kemewahan sangat sulit diduga ataupun dimengerti. Sedangkan kasih Tuhan dalam kebersahajaan jauh lebih mudah dirasakan. Itulah sebabnya, dia tidak mau meninggalkan kebiasaan hidup bersahajanya, meski dia telah kaya raya. Bagaimana dengan kita? Semoga hidup kita yang sudah baik tidak segampang berubahnya kesabaran orang yang berkosong-kosong perut sepanjang siang, menjadi berlomba-lomba memenuhi perut segera setelah azan magrib. (Masih untung sempat mengaku: “Ya Allāh, semata untuk mengabdi pada-Mu, aku saum; karena hanya pada-Mu, aku beriman; dan hanya dengan rizki-Mu, aku berbuka).

disadur dari:
Kitab ‘Awārif al-Ma’ārif
Al-Bāb at-Tāsi’ wa ats-Tsalātsūn
Fī Fadhl as-Shawm wa Hasani Atsarihi

(1) Hadis “sabar separo iman” diriwayatkan oleh Abū Nu’aim dan Al-Khāthib dari Ibn Mas’ūd; sedangkan hadis “saum separo sabar” diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dan Ibn Mājjah dari Abī Hurairah.

(2) Lihat catatan kaki no.662, ayat 112 surat At Taubah, dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an.

(3) Qur-ān, surat Az Zumar, ayat 10.

(4) Yahya ibn Mu’ādz adalah seorang sufi yang mengajar di Asia Tengah. Salah seorang tokoh pertama yang mengajarkan tasawuf di masjid-masjid. Wafat pada tahun 258H/872M. Meninggalkan sejumlah buku dan kata-kata hikmah. Penekanannya terhadap sikap rajā’ (berharap ampunan dan kasih Tuhan) dibuktikan dengan sifatnya yang dikenal sangat cermat dan berhati-hati dalam beribadat dan urusan-urusan agama.

(5) Hadis Bukhāriy dan Muslim dari Abī Hurairah.

(6) Hadis Bukhāriy dari Abī Hurairah.

(7) Hadis Nasā-iy dan Ibnu Mājjah dari Abī Hurairah.

(8) Abū Thālib Al-Makkiy, Muhammad ibn ‘Aliy (w. 386H/999M). Seorang ulama hadis, ahli hukum Mālikiy, pemimpin tarekat Sālimiyah di Basrah, dan penulis kitab Qūt Al-Qulūb, salah satu karya paling berpengaruh di kalangan tasawuf generasi pertama. Dari kitab ini, Al-Ghazāliy banyak mengambil bahan untuk karyanya, Ihyā`.

(9) Qs. Al-Māidah 42.

Selengkapnya...

30 Juli 2009

UNTUKKU, KAKAKKU, ADIK-ADIKKU


Entah sejak kapan Ibu mulai melantunkan doa yang kemudian kuketahui bagian dari doa Imam ‘Ali Zainal-‘Ābidīn (lahir : 5 Sya’ban 38H). Satu-satunya anak laki-laki dari cucu Rasūlullāh, Husain ibn ‘Ali, yang selamat dalam pertempuran brutal di Karbala melawan balatentara Yazid ibn Mu’awiyyah. Merupakan salah seorang dari sembilan fuqaha salaf terkemuka Madinah, dan waliyullāh yang telah mencapai mukasyafah. Julukan zain al-‘ābidīn (hiasan para hamba) dan as-sajjad (sibanyak sujud) disematkan orang kepadanya karena keteguhannya menjalani hidup yang lurus di saat kezaliman dan bermewah-mewah menjalari hampir seluruh bagian masyarakat, terutama para pejabat Bani ‘Umayyah. Orang-orang banyak mengambil pelajaran mengenai pokok maupun cabang agama darinya, dan ia menjadi teladan yang istimewa dalam ilmu dan sifat-sifat luhur hamba Tuhan Yang Maha Kasih. Pengaruh kebaikannya begitu meresahkan para pemuja kemewahan dunia, hingga menggerakkan mereka membuat konspirasi untuk membunuh sang Imam pada tahun 95H dengan cara licik dan keji.


Tuhan ... karuniailah aku dengan menjaga anak-anakku, menjadikan mereka orang-orang yang baik, dan membuatku bahagia dengan kehadiran mereka.

Tuhan ... panjangkanlah usia mereka, dan tambahkanlah batas ajal mereka. Peliharalah yang masih kecil di antara mereka, dan berilah kekuatan pada yang lemah.

Jagalah kesehatan tubuh, agama dan akhlak mereka, dan jauhkanlah mereka dari segala penyakit dalam jiwa, raga dan dalam segala urusan mereka yang memerlukan perhatianku.

Lancarkanlah rizki mereka melalui tanganku, dan jadikanlah mereka putera-puteri yang selalu berbakti, bertakwa, sehat pandangan, mendengar dan taat kepada-Mu, cinta dan setia kepada wali-wali-Mu, menentang dan membenci musuh-musuh-Mu.

Tuhan ... kuatkanlah dengan mereka lenganku, sempurnakanlah kekuranganku, perbanyaklah pengikutku, perindahlah keberadaanku, dan harumkanlah sebutanku. Cukupkanlah mereka sebagai wakilku di saat ketiadaanku, dan bantulah aku dengan mereka dalam menggapai cita-citaku.

Jadikanlah mereka selalu mencintaiku, santun dan mengasihiku, serta tetap berlaku baik dan mentaatiku. Jangan Kaujadikan mereka pembangkang dan pendurhaka, penentang dan penyeleweng. Dan bantulah aku dalam membesarkan dan mendidik mereka, serta dalam berbuat baik terhadap mereka.

Karuniailah aku lebih banyak lagi putera-puteri, dan jadikanlah itu tambahan kebaikan bagiku. Jadikanlah mereka semua pendukung dalam segenap persoalan yang kumohonkan kepada-Mu.

Lindungilah aku dan keturunanku dari Setan terkutuk. Tuhan ... patahkanlah kekuasaannya atas kami dengan kekuasaan-Mu, dan Kaukerangkeng ia dari kami sehingga kami terpelihara dari tipu dayanya berkat penjagaan-Mu.

Berilah setiap lelaki dan wanita Muslim semua yang kuminta dari-Mu bagi diriku dan anak-anakku. Sesungguhnya Engkau dekat lagi menjawab semua doa, Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Maha Pemaaf lagi Maha Pemberi Ampunan, penuh kasih lagi Maha Penyayang.



Selengkapnya...

22 Juli 2009

HARAPAN DI PENGHUJUNG RAJAB

Hari-hari terakhir Rajab pun berlalu. Tinggal melewati satu bulan Sya’ban, Ramadhan pun akan segera tiba. Bagian terakhir dari doa Imam Ja’far Ash-Shādiq berikut ini, mudah-mudahan mewakili harapan kita dalam menutup Rajab menjelang Ramadhan.


Allāhumma innī as-aluka shabrasy-syākirīna laka
Ya Allāh, kuminta kesabaran orang-orang yang bersyukur kepada-Mu.

Wa’amalal-khā-ifīna mingka
Amal orang-orang yang takut kepada-Mu.

Wayaqīnal-‘ābidīna laka
Dan keyakinan orang-orang yang menghamba kepada-Mu.

Allāhumma antal-‘aliyyul-‘azhīm
Ya Allāh, Engkau Maha Luhur dan Maha Agung.

Wa anā ‘abdukal-bā-isul-faqīr
Adapun aku adalah hamba yang hina lagi sangat rapuh.

Wa antal-ghaniyyul-hamīd
Engkau Maha Kaya lagi Terpuji.

Wa anāl-‘abdudz-dzalīl
Sedangkan aku sahaya yang lemah.

Allāhummam-nun bighināka ‘alā faqrī
Ya Allāh berkatilah dengan kekayaan-Mu kefakiranku.

Wabihilmika ‘alā jahlī
Berkatilah dengan kelembutan kasih-Mu kebodohanku.

Wabiquwwatika ‘alā dha’fī
Dan berkatilah dengan kekuatan-Mu kelemahanku.

Yā qawiyyu yā ‘azīz
Wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Agung.

Allāhumma shalli ‘alā Muhammad wa-ālihil-awshiyā-il-mardhiyyīn
Ya Allāh, limpahkanlah salawat atas Nabi Muhammad beserta keluarganya yang diwasiatkan dan Kauridhai.

Wakfinī mā ahammanī min amrid-dunyā wal-ākhirah
Penuhilah semua kepentinganku dari urusan dunia maupun akhirat.

Yā arhamar-rāhimīn
Wahai Yang Paling Kasih di antara para penyayang.


Selesai sudah rangkaian doa mulia dan indah Imam Ja’far, seperti yang didiktekan oleh ayahku. Semoga memudahkan kita memandu diri dan menghayati hari-hari ke depan, terutama hari-hari Ramadhan yang segera kita jelang. Sukses!


Selengkapnya...

10 Juli 2009

40 Hari Jelang Ramadhan

Kelanjutan Doa Rajab Imam Ja’far Ash-Shādiq (w. 148H/756 M)

Malam senin, 12 Juli 2009, satu demi satu, hari-hari kesepuluh terakhir Rajab pun akan mulai berlalu. Persiapan menyambut Ramadhan pun kira-kira tinggal empat puluh hari lagi. “Siapa saja yang selalu menetapi keadaan ikhlash karena Allāh selama empatpuluh pagi, maka hikmah yang tersingkap pada hatinya akan mengalir melalui lisannya,” begitu sabda Rasul. (Duh, betapa baik dan berartinya seseorang yang hatinya dipenuhi kebenaran dan segenap anggota tubuhnya hanya mengejawantahkan kebenaran itu. Allāh jua yang kuharapkan untuk memberi ganjaran sebesar itu atas amal yang belum sehebat ikhlash selama empatpuluh pagi).




Khābal-wāfidūna ‘alā ghayrika

Menyesallah orang yang bertopang kepada selain-Mu.

Wakhasiral-muta’arridhūna laka

Merugilah orang yang mengadu selain kepada-Mu.

Wadhā’al-mulimmūna illā bika

Sia-sialah orang yang berendah-rendah, kecuali pada-Mu.

Wa ajdabal-muntaji’ūna illā manin-taja’a fadhlaka

Dan gilalah orang yang berharap, kecuali yang berharap kasih-Mu.

Bābuka maftūhul-lir-rāghibīn

Pintu-Mu selalu terbuka bagi siapa saja yang mengharapkannya.

Wakhayruka mabdzūlul-lith-thālibīn

Kebaikan-Mu selalu menyentuh siapa saja yang menginginkannya.

Wafadhluka mubāhul-lis-sā-ilīn

Kemurahan-Mu selalu tersedia bagi siapa saja yang memintanya.

Wanayluka mutāhul-lil-āmilīn

Anugerah-Mu selalu terlimpah bagi siapa saja yang mendambakannya.

Warizquka mabsūthul-liman ‘ashāka

Rizki-Mu selalu tercurah bahkan bagi orang yang bermaksiat kepada-Mu.

Wahilmuka mu’taridhul-liman nāwāka

Kelembutan kasih-Mu selalu menyelimuti bagi siapa saja yang kembali pada-Mu.

‘Ādatukal-ihsānu ilāl-musiy-īn

Kebiasaan-Mu adalah tetap berbuat baik kepada orang yang jahat.

Wasabīlukal-ibqā-u ‘alāl-mu’tadīn

Jalan-Mu adalah tidak memusnahkan orang yang melampaui batas.

Allāhumma fahdinī hudāl-muhtadīn

Ya Allāh, bimbinglah aku dengan bimbingan orang-orang yang terbimbing.

Warzuqnī ijtihādal-mujtahidīn

Karuniailah aku kesungguhan orang-orang yang bersungguh-sungguh.

Walā taj’alnī minal-ghāfilīnal-mub’idīn

Janganlah Kaujadikan aku termasuk orang yang lalai dan dijauhkan dari-Mu.

Waghfirlī yawmad-dīn

Dan ampunilah aku di hari pembalasan.

Selengkapnya...

02 Juli 2009

DOA RAJAB (2)

Berikut kelanjutan doa Rajab yang menurut ayahku bersumber dari Imam Ja’far Ash-Shādiq, putera Muhammad ibn ‘Alī ibn Husain cucu Rasūlullāh (w. 148H/756 M); agar memudahkan kita memandu diri dan menghayati hari-hari di bulan Rajab ini.





Yā mayyamliku hawā-ijas-sā-ilīn

Wahai yang memiliki setiap kebutuhan segenap orang yang meminta.

Waya’lamu dhamīrash-shāmitīn

Dan yang mengetahui isi hati seluruh orang yang membisu.

Likulli mas-alatimmingka sam’a hādhiriwwajawāba ‘atīdi

Setiap permintaan, Kau dengar langsung dan Kau jawab dengan kepastian.

Allāhumma wamawā’īdikash-shādiqah

Ya Allāh, demi kebenaran janji-Mu.

Wa ayādīkal-fādhilah

Dan demi kemuliaan tangan-Mu.

Warahmatikal-wāsi’ah

Serta demi keluasan kasih-Mu.

Fa-as-aluka an taqdhī hawā-ijī lid-dunyā wal-ākhirah

Maka aku memohon kepada-Mu agar terpenuhi segala kebutuhan bagi dunia maupun akhiratku.

Innaka ‘alā kulli syay-ing qadīr

Sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Kuasa.

Selengkapnya...

24 Juni 2009

DOA RAJAB (1)

Masih menurut cerita ayahku, dulu, pada bulan Rajab, guru-gurunya sehabis melakukan wirid seperti biasa setiap usai shalat maghrib, melanjutkannya dengan membaca doa khusus.

Aku sempat meminta ayahku mendiktekan doa tersebut, dan ketika kutanya doa siapa ini? Ia menjawab : “Doanya Imam Ja’far.” (Maksudnya Imam Ja’far putera Muhammad ibn ‘Alī ibn Husain cucu Rasūlullāh, yang dikenal sebagai Ash-Shādiq (w. 148H/756 M). Seorang Imam terkemuka. Mujtahid mutlak dalam hukum dan seorang ahli hadits yang terpercaya. Guru dari Imam Abū Hanīfah dan Imam Mālik. Wali Allāh dan panutan para penempuh jalan hakikat karena kehidupannya yang keras dan saleh. Sejumlah besar kata-kata hikmah dinisbahkan kepadanya).

Agar memudahkan kita memandu diri dan menghayati hari-hari di bulan Rajab ini, aku sampaikan doa tersebut, paragraf demi paragraf. Mudah-mudahan bermanfaat.


Wahai yang kuharapkan segala kebaikan-Nya, dan yang kuharapkan keamanan dari murka-Nya, pada setiap keburukan.

Wahai yang memberi ganjaran yang banyak untuk amalan yang sedikit.

Wahai yang memberi kepada setiap yang meminta.

Wahai yang memberi kepada siapapun yang tidak meminta dan kepada yang tidak mengenal-Nya, semata karena belas kasih dan rahmat-Nya.

Berilah aku, atas permohonanku yang hanya pada-Mu, segenap kebaikan dunia dan akhirat.

Jauhkanlah aku, demi permohonanku yang hanya pada-Mu, seluruh kejelekan dunia dan akhirat, karena sesungguhnya pemberian-Mu takkan pernah kurang.

Tambahilah aku karunia-Mu, wahai yang Maha Dermawan.

Selengkapnya...

20 Juni 2009

Dosa kecil sudah cukup untuk menyusahkanmu jika Tuhan menghadapimu dengan keadilan-Nya, namun dosa besar pun tidak pernah dapat menutup peluangmu untuk menjadi baik jika Tuhan menghadapimu dengan kasih-Nya.


(Kutipan dari Hikām Ibn ‘Athā-illāh)


Selengkapnya...

KURANG 60 HARI LAGI KITA PUASA!

Pada hari rabu, tanggal 24 Juni 2009, kita memasuki tanggal 1 bulan Rajab, syahrullāh, bulan Tuhan. Artinya, kurang dari 60 hari lagi bakal memasuki Ramadhān, bulan umat Rasul (syahrul-ummatī). Semoga Allāh mengaruniai kita kesiapan untuk meraih setinggi-tingginya takwa di bulan mulia itu.

Menurut cerita ayahku, dulu di Bogor, pada malam satu Rajab (kalau tahun ini artinya pada malam Rabu, tanggal 23 Juni) orang-orang dari berbagai kalangan, tua, muda, laki-laki, perempuan, berbondong-bondong datang ke Masjid untuk menunaikan shalat maghrib berjama’ah, kemudian sebelum saling bermaaf-maafan, membaca dahulu doa istighfār rajab. Doa yang penuh arti dan pengakuan akan segala kekurangan dalam keberislaman kita. Karena itu, terlepas dari ke-dha’īf-an riwayat mengenai doa tersebut, dan ke-bid’ah-an tradisi Bogor tempo dulu itu, berikut kusampaikan terjemahan dari doa tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat.



Astaghfirullāhal-‘azhīm, astaghfirullāhal-‘azhīm, astaghfirullāhal-‘azhīm.

Kumohon ampunan Allāh, Tuhan Yang Maha Agung, Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mandiri. Aku pun bertaubat kepada-Nya dari segenap maksiatku dan seluruh dosaku. Kubertaubat kepada-Nya dari segala yang dibenci Tuhan, berupa perkataan maupun perbuatan, pendengaran maupun penglihatan, yang kuperbuat langsung maupun yang terkait denganku.

Ya Allāh. Sungguh kumohon ampunan-Mu untuk segala yang telah kulakukan dahulu maupun kemudian, yang kulakukan berlebih-lebihan, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan; segala yang Kau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Terdahulu dan Yang Terkemudian, dan Engkau atas segala sesuatu Maha Kuasa.

Ya Allāh. Sungguh kumohon ampunan-Mu untuk setiap dosa yang telah kumohonkan taubatnya kepada-Mu, tetapi kemudian kulakukan kembali. Kupun memohon ampunan-Mu untuk setiap yang kumaksudkan demi Wajah-Mu Yang Mulia, tetapi kemudian kuganti dengan sesuatu yang Kau tidak ridhai. Dan kumohon ampunan-Mu untuk setiap janjiku pada-Mu demi kebaikan diriku sendiri, tetapi kemudian kusalahi.

Kumohon ampunan-Mu untuk setiap ajakan jiwaku kepada hal-hal yang samar (syubhāt) sebelum jelas adanya keringanan bagiku, padahal hal itu di sisi-Mu merupakan sesuatu yang terlarang. Kupun memohon ampunan-Mu untuk setiap nikmat yang Kau berikan yang kugunakan dan kujadikan sebagai sarana melakukan maksiat. Dan kumohon ampunan-Mu untuk setiap dosa yang tiada dapat mengampuninya selain Engkau, yang tiada seorang pun melihatnya selain Engkau, yang tiada dapat melenyapkannya selain rahmat-Mu dan santunan-Mu, dan yang tiada dapat menyelamatkan darinya selain maaf-Mu.

Kumohon ampunan-Mu untuk setiap sumpah yang kuikrarkan dan kulanggar, yang seharusnya aku dihukum karenanya. Kupun memohon ampunan-Mu, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau; Mahasuci Engkau, sungguh aku ini termasuk orang-orang zalim. Dan kumohon ampunan-Mu, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, untuk setiap kejelekan yang kuperbuat di siang bolong maupun di kegelapan malam, baik di hadapan orang banyak maupun ketika sendirian, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, padahal Engkau selalu mengawasiku saat kumelakukannya; Engkau melihat setiap perbuatan durhaka yang kulakukan, baik yang disengaja, tersalah maupun karena lupa; wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Mulia.

Kumohon ampunan-Mu, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau; Mahasuci Engkau, sungguh aku ini termasuk orang-orang zalim.

Tuhan, ampunilah aku, kasihilah aku, dan terimalah taubatku, karena Engkau sebaik-baik penyayang di antara para penyayang. Kumohon ampunan-Mu untuk setiap fardhu yang diwajibkan atasku sepanjang siang dan malam, namun aku tinggalkan dengan sengaja, keliru, lupa maupun meremehkan, padahal aku pasti akan ditanyai mengenainya; juga untuk setiap sunnah dari sunnah-sunnah penghulu para Rasul dan penutup para Nabi, Muhammad shallāllāhu ‘alayhi wasalam, yang kutinggalkan karena lalai, lupa, tidak tahu maupun meremehkan, sedikit maupun banyak, dan aku masih mengulanginya.

Kumohon ampunan-Mu, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Esa, tiada sekutu bagi Engkau, Maha Suci Engkau, Tuhan seru sekalian alam, bagi-Mu kerajaan, bagi-Mu segala puji, dan bagi-Mu segenap syukur. Engkau cukup bagi Kami, dan Engkaulah sebaik-baik wakil, sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pemberi bantuan. Tiada daya dan kekuatan selain dengan Allāh, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Semoga Allāh melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Wal-hamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.

Selengkapnya...

BILA TERLANJUR BERDOSA (4)

Ketulusan dan kepasrahan Nabi Adam dan istrinya tidak hanya sewaktu berdoa saja, tetapi juga ketika harus menerima ujian dan cobaan berupa dicabut-Nya segala kebahagiaan hidup mereka di surga. Mereka disuruh pindah ke bumi dimana mereka akan merasakan beratnya berusaha, menanggung rasa lapar, haus dan panas.

Mereka tidak bersedih dan gundah, apalagi sampai putus harapan, karena mereka menyadari tidak ada pengecualian dalam sunnah Allāh yang berlaku untuk suatu kesalahan. Sekalipun bagi diri mereka, kesalahan pasti akan berbuah kerugian. Allāh telah beritahukan hal ini kepada mereka : “Hai Adam, sesungguhnya dia ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu susah. Sungguh kamu selama di surga tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Dan kamu selama di surga tidak akan merasa kehausan dan tidak akan ditimpa panas matahari.” (Qs. ThāHā (20) : 117-119).



Dalam keyakinan mereka, apabila kesalahan langsung dibayar kontan dengan kerugian, maka kebaikan pun akan langsung membuahkan keuntungan. Abū Bakr pernah bertanya kepada Rasūlullāh bagaimana halnya dengan kebaikan, bila kejahatan menurut Firman Allāh : “Bukan berdasarkan khayalan kalian, dan bukan pula berdasarkan khayalan Ahli Kitab. Siapa saja yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan segera mendapatkan balasannya.” (Qs. An-Nisā` (4) : 123). Maka jawab Rasul : “Semoga Allāh mengampuni dan mengasihimu. Tidakkah engkau pernah dilindungi dan dikasihi dari atau saat engkau sakit, mendapat cobaan, kesedihan dan musibah? Itulah balasan segera dari kebaikan.”

Karena itu Nabi Adam dan istrinya optimis menghadapi ujian yang akan dijalani. Mereka tidak pernah berhenti berdoa dan beramal saleh sebagai sarana yang menghubungkan mereka dengan rahmat Allāh. Mereka bergegas mengembalikan semua urusan mereka kepada Allāh, yang Di Tangan-Nya segala kebaikan yang mereka harapkan dan yang akan menolak segala keburukan.

(nyambung)


Selengkapnya...