Sesungguhnya Tuhan memerintahkan kamu semua agar berkeadilan, berkebajikan dan berkepedulian terhadap sesama. Dan Dia membenci setiap kekejian, kemungkaran dan permusuhan!

09 Januari 2010

Satu Sifat Sahabat Rasul


Pagi, alhamdulillah saya berkesempatan bersilaturahim dengan salah seorang teman. "Yang saya tahu tentang sahabat Rasul ..." katanya, "adalah mereka selalu berusaha mempelopori kebaikan dan tidak pernah meninggalkannya selain karena kondisi yang benar-benar mengharuskan."


Suatu hari 'Ali dan puteri Nabi, istrinya, mendatangi Nabi. Mereka mengadukan beratnya hidup berumah tangga dan meminta bantuan kepada beliau untuk berkenan meringankan beban mereka.

Nabi tersenyum. "Hari ini aku memang memperoleh bagian sejumlah harta dan budak dari sebuah peperangan," kata Nabi : "Tapi ..." Sejenak Nabi menghela nafas; terasa sedemikian berat bagi 'Ali dan puteri Nabi merasakan debar dada atas kemungkinan besar harapan mereka akan terkabul.

"Aku tidak mungkin membiarkan keluargaku mendapat sedikit keringanan, sementara para fakir Ahli Suffah setiap hari selalu dirundung oleh beratnya hidup di beranda-beranda Masjid tanpa sedikit pun mengecap keringanan." Wajah Nabi berubah serius.

'Ali dan Fatimah menghela nafas. Mereka segera pulang dengan duka setelah mengucap salam kepada Nabi.

Sesampainya di rumah, rasa duka bercampur letih dan lapar, memaksa mereka berbaring ditempat tidur. Dan tidak berapa lama, Nabi datang dan ikut berbaring di antara mereka. Tangan beliau menarik lembut selimut usang untuk menutupi tubuh mereka bertiga. Lalu beliau berkata :

"Anak-anakku. Di dunia ini tidak ada yang sangat kusayangi melebihi cintaku pada kalian. Aku dan kalian mendapat keistimewaan dari Allah, lebih dari orang-orang lain, lantaran kasih kita kepada sesama. Jika kalian merasakan beratnya hidup, hendaklah sebelum tidur, ketika kalian berbaring miring ke kanan menghadap kiblat, bacalah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali, dan genapkanlah menjadi seratus dengan tahlil."

Jauh setelah Nabi wafat, 'Ali berkata : "Sejak itu, aku tidak pernah meninggalkan membaca zikir-zikir tersebut."

"Juga sewaktu terjadi peperangan hebat melawan Khawarij?" sela Ibnu Kawwa.

"Ya!" tegas 'Ali.

Begitu juga 'Umar, setelah dia mendengar Nabi berkata bahwa tidak boleh seseorang menyimpan wasiat yang ingin disampaikannya, lebih dari 2 malam, kecuali dalam bentuk tertulis. Maka 'Umar berkata : "Sejak aku mendengar hal itu dari Nabi, tidak pernah aku lewatkan malam, kecuali aku sudah tuliskan wasiat dan kusimpan di bawah bantalku."

Jadilah pelopor kebaikan, bila anda sudah tahu, dan jangan pernah meninggalkannya.

Selengkapnya...

18 Desember 2009


Hingga tahun ini, ibarat cermin, mudah bagiku menunjukkan wajah asli orang lain, tetapi untuk melihat wajah asliku, aku masih butuh cermin jernih lain!



Dimana cermin itu? Bantu aku menemukan. Please!!!
Selengkapnya...

HAPPY NEW YEAR, HAPPY HIJRIYAH!


Tidak ada yang istimewa dari penyebab lahirnya penanggalan Hijriyah. Kebutuhan memiliki penanggalan muncul seiring meluasnya wilayah kekhilafahan Islam di masa pemerintahan Umar ibnul-Khaththab. Yang menarik adalah, dari sekian banyak peristiwa penting sepanjang sejarah Islam, Ali ibnu Abi Thalib mengusulkan agar penanggalan dihitung mulai dari peristiwa hijrahnya Rasul ke Madinah (Rabiul-Awwal tahun ke-13 kenabian).


Kenapa hijrah?

Tentu saja bukan lantaran sebutannya jadi kurang enak didengar; misalnya bukan Hijriyah tetapi Futuhiyah kalau penghitungannya dimulai dari peristiwa penaklukkan Makkah, atau Wadaiyah jika dimulai dari haji terakhir Rasul, di mana beliau banyak menyampaikan pesan-pesan futuristik demi kemajuan Islam, atau Khaibariyah jika dimulai dari penaklukan Khaibar sebagai puncak pemberangusan kekuatan-kekuatan jahat Yahudi di wilayah Islam, atau Tha'ifiyah jika dimulai dari peristiwa dakwah Rasul ke Thaif yang heroik, atau Bi'tsahiyah jika dimulai dari peristiwa pengangkatan Muhammad SAW selaku Nabi dan Rasul, dan sebagainya.

Memang tidak ada data sejarah yang menjelaskan alasan ketika sidang khusus penetapan penanggalan ini menerima secara bulat usulan Ali; tetapi berbagai spekulasi telah banyak diungkapkan oleh para ahli dalam karya-karya tulis mereka, dan semua membahas tentang MAKNA HIJRAH BAGI KEMAJUAN ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN. Bagaimana menurut kita?

Selamat Tahun Baru Hijriyah!
Selengkapnya...

12 Desember 2009

SEDIKIT OLEH2 DARI DUNIA KEMATIAN

Maaf ya, maaf ... sudah lama menghilang, tiba-tiba nongol bawa2 kematian!

Aku sedang tenggelam di antara buku-buku dan artikel-artikel ilmiah soal kematian (bukan iseng lho, tapi harus karena suatu pesanan); lalu tergerak begitu saja saat melihat-lihat blogku ini untuk membagi beberapa bagian dari kerja boronganku itu (tidak apa-apa kan? pake nanya ... blog, blog punya situ! Egepe dah!). Semoga bermanfaat.


Dikatakan kepada orang beriman itu dalam kematiannya : “Masuklah ke Surga.” Ia pun berkata : “Oh alangkah baik sekiranya sanak famili dan handai tolanku mengetahui penyebab aku diampuni Tuhan dan Dia menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”

Qs. YāSīn (36) : 26-27.

Seharusnya Kematian Bukan Sesalan


Jika Yang paling Kita Senangi Adalah Berdekat-dekat Kepada Tuhan (taqarrub ilallāh)

Pada saat kematian, ruh mengalami dua macam perubahan. Pertama, dia sekarang terpisah dari mata, telinga, kaki dan dari semua bagian anggota tubuh, seperti halnya dia terpisah dari keluarga, anak-anak, kerabat dan semua handai tolannya, kendaraan-kendaraannya, simpanan-simpanan kekayaannya, rumah-rumah dan semua yang pernah dimilikinya. Tidak ada perbedaan antara apakah semua ini pergi meninggalkannya atau dia yang pergi meninggalkan semua itu, tetap saja perpisahan semacam ini menimbulkan duka. Sehingga jika di dunia seseorang memiliki sesuatu yang sangat disenangi dan begitu dia nikmati, serta selalu dia cari, maka ketika dia karena kematian dipaksa untuk berpisah dengan semua kesenangan ini, betapa besar rasa sesalnya dan betapa berat perpisahan tersebut.

Ruh dapat merasakan semua itu karena meskipun daya kerjanya pada anggota-anggota badan telah hilang karena kematian, tetapi pengetahuan dan pemahamannya, serta kemampuannya merasakan gembira, sedih, sakit, dan sebagainya tidaklah hilang. Seperti halnya pada kelumpuhan, ruh tidak lagi efektif pada sebagian atau seluruh anggota badan yang lumpuh, tetapi pengetahuan dan kemampuan merasakan kesenangan dan penderitaan tetap ada.

Rasa senang dan kebahagiaan ruh akan sempurna jika satu-satunya hal yang paling digemarinya adalah mengingat dan melakukan pendekatan-pendekatan kepada Allāh, karena dengan kematian, dia telah melewati dinding pemisah antara dirinya dengan Sang Mahakasih, dan dia terbebas dari belenggu kesibukan duniawi yang seringkali membuatnya melupakan Dia.

Perubahan kedua adalah ketika terungkap segala hal bagi ruh yang tidak diungkapkan kepadanya di masa hidup. Hal pertama yang akan terungkap adalah rahasia baik atau buruk perbuatannya. Selama ini rahasia itu hanya terguris dalam nuraninya, dan dia berpaling dari keharusan memperhatikannya karena kesibukan-kesibukan dan ambisi duniawi. Namun jika kesibukan-kesibukan dan ambisi itu telah terhenti sama sekali, maka semua perbuatannya akan terlihat nyata di hadapannya. Tak alang kepalang rasa sesalnya ketika dia melihat perbuatannya selama ini benar-benar jahat. Apalagi jika terungkap bahwa kejahatan itu adalah kejahatan terhadap atau di hadapan Allāh yang telah memberinya banyak karunia dan nikmat, maka bagaimana rasa takut, malu, hina, sedih dan kecewa yang sudah dapat dia rasakan meski hukuman belum ditimpakan atas dirinya. Kita berlindung kepada Allāh dari hal seperti itu! Sesungguhnya rasa hina, aib dan nista lebih menakutkan daripada bentuk siksaan apapun.

Demikian itu keadaan orang mati yang bergelimang dosa semasa hidupnya dan terpedaya oleh kesenangan-kesenangan duniawi. Berbeda dengan dia yang tujuan hidupnya keridhaan Allāh dan menjadikan amal-amal baik sebagai bekal dan penopang dalam mencapai tujuannya. Saat satu per satu anggota tubuhnya mati; mula-mula telapak kakinya menjadi dingin, kemudian betis dan pahanya, hingga ruhnya mencapai kerongkongan, dimana perhatiannya kepada dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya berhenti, terungkaplah baginya keridhaan Allāh yang selama ini ditujunya dengan mengusahakan berbagai kebaikan. Betapa suka cita yang dirasakannya dan dia tidak dirisaukan dengan terputusnya kesempatan untuk lebih banyak beramal, karena barangsiapa yang selalu berbekal untuk menyampaikannya kepada tujuan, maka tentu dia akan rela berpisah dengan sisa perbekalannya itu ketika dia telah mencapai tujuannya.

Apalagi Kalau Matinya Di Jalan Allāh

Ini karena syuhada tidaklah maju ke medan perang, kecuali dengan memutuskan semua kecondongan mereka terhadap duniawi karena lebih merindukan perjumpaan dengan Allāh, sehingga mereka rela terbunuh demi memperoleh keridhaan-Nya. Syuhada adalah orang yang menjual dunia untuk memperoleh akhirat. Dan seorang penjual selamanya tidak akan pernah menoleh kembali kepada barang yang telah dijualnya. Adapun akhirat adalah yang dibeli dan sangat diinginkan oleh mereka. Dan alangkah besar suka cita seorang pembeli ketika berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkannya.

Tenggelamnya hati dalam merindukan perjumpaan dengan Allāh bisa saja terjadi dalam keadaan tertentu. Akan tetapi hidup yang panjang dengan bermacam persoalannya bisa saja menimbulkan perubahan pada seseorang. Oleh karena itu berbahagialah syuhada ketika mereka dapat terlibat langsung dalam pertempuran, karena pertempuran adalah salah satu penyebab kematian yang juga berarti sarana untuk mati dalam keadaan merindukan Allāh, dan semakin bertambah besarlah kebahagiaan syuhada ketika mereka benar-benar mati dalam pertempuran, sebab kebahagiaan mengandung arti tercapainya apa yang diinginkan, sedangkan terhalang dari mendapatkannya adalah kenestapaan. Itulah ketika Allāh melukiskan kebahagiaan penghuni Surga, Dia berfirman : “Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kamu memperoleh pula apa yang kamu minta.” Dan ketika menggambarkan kesengsaraan penghuni Neraka, Dia berfirman : “Dan mereka dihalangi dari yang mereka inginkan.” (Qs. Fushshilat (41) : 31 dan Sabā` (34) : 54).

Atau Sempat Bertobat Sebelum Sampai Pada Sakratul Maut

Rasulullāh memberitahukan : “Tobat hamba tetap diterima selama dia belum sampai pada sakratul maut.”

Hadis Turmudzī dan Ibnu Mājjah.

Sakratul maut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang langsung ke pusat jiwa dan menjalar ke seluruh bagiannya sehingga tak ada lagi satu bagian yang tidak mengalami sakit. Kalau rasa sakit tertusuk pecahan kaca, misalnya, hanya menjalar pada jiwa yang terletak di sekitar anggota badan yang tertusuk itu saja, dan ini masih lebih ringan bila dibandingkan dengan luka bakar karena rasa sakit akibat terbakar menyebar lebih luas, maka rasa sakit sakratul maut melebihi semua itu. Sakitnya menghujam jauh ke dalam hati dan menyebar ke seluruh anggota badan sehingga bagian orang yang sedang mengalaminya merasakan jiwanya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat, saraf, persendian, lapisan demi lapisan kulit, dari ujung kaki hingga puncak kepala.

Satu per satu anggota tubuhnya akan mati. Mula-mula telapak kakinya menjadi dingin, kemudian betis dan pahanya, hingga ruhnya mencapai kerongkongan. Pada titik ini berhentilah perhatiannya kepada dunia dan manusia-manusia yang ada di dalamnya. Pintu tobat pun ditutup. Betapa sakit, sedih dan penyesalan yang bercampur aduk pada saat-saat ini.

“Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebuah batang berduri di sepanjang sisinya yang menancap pada sebongkah kapas. Apakah batang berduri itu dapat diambil tanpa mencerabut bagian demi bagian kapas yang terkoyak?” Begitu sabda Rasulullāh. Dan beliau mengajarkan agar kita berdoa :

allāhumma innaka ta`khudzurrūha min baynil’ashabi walqashabi wal-anāmili; allāhumma fa-a’innī ‘alālmawti wahawwinhu ‘alayya

Ya Allāh, sesungguhnya Engkau mencabut nyawa dari urat-urat, ruas-ruas tulang dan ujung-ujung jari. Ya Allāh tolonglah aku dalam kematian, dan ringankanlah dia bagiku.

Keduanya hadis Ibnu Abid Dunyā. Adapun penjelasan tentang sakaratul maut di atas dihimpun dari beberapa hadis, antara lain hadis-hadis yang dinukil dalam Ihyā` Al-Ghazali.

Bagi Pelaku Maksiat Persoalannya Tidak akan Mudah

nyambung ...
Selengkapnya...

18 Agustus 2009

BILA PARA PENDAHULU KITA SAUM

Mungkin ... sedikit mengingat bagaimana para pendahulu kita bersaum, dapat menambah kesiapan kita menjalani Ramadhan yang segera tiba. Selamat. Semoga Allāh menyampaikan kita kepada derajat takwa yang lebih tinggi dari takwa kita saat ini.


Mereka Benar-benar Menjaga Sunnah
Mereka sahur karena merupakan sunnah. Mereka mengharap berkah dengan makan sahur, dan membuat tubuh kuat melaksanakan saum.

Rasūlullāh bersabda: “Bersahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur terdapat berkah.”(1)

Mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka juga karena merupakan sunnah, sehingga tidak pernah mereka menunda-nunda berbuka hingga lewat waktu isya.

Zaid ibn Tsābit bercerita: “Kami sahur bersama Rasūlullāh, lalu bangun untuk shalat subuh.” Ketika ditanya berapa jarak antara bersahur dengan shalat subuh, dia menjawab: “Sekadar orang membaca 50 ayat.”(2)

Rasūlullāh bersabda bahwa Allāh ta’ālā telah berfirman: “Hamba yang paling Kusukai ialah yang paling bersegera berbuka apabila sudah waktunya.”(3)

“Manusia itu selalu dalam kebaikan selama mereka segera berbuka apabila sudah waktunya.”(4)

Malah sebagian dari mereka berbuka sebelum melaksanakan shalat magrib, karena merupakan sunnah pula.

“Rasūlullāh berbuka sebelum shalat magrib dengan ruthāb (korma basah), kalau tidak dengan tamr (korma yang sudah dikeringkan), atau dengan air minum secukupnya,” begitu menurut Anas ibn Mālik.(5)

Mereka Tidak Berlebihan Mengkonsumsi Makanan-makanan Yang Dibolehkan
Kalau yang haram dan mengandung dosa sih sudah pasti telah mereka tinggalkan jauh-jauh.

Para guru yang saleh bermaksud mengendalikan nafs (elemen jahat dalam diri) dengan saum, dan mereka hendak mencegah diri dari kerusakan akibat selera makan yang dituruti. Karena itu mereka makan secukupnya, sewaktu sahur maupun berbuka, sekadar membuat tubuh kuat untuk melaksanakan ibadah. (Lihat penjelasan Yahya ibn Mu’ādz pada postingan terdahulu).

Mereka Beretika Lahir Batin
Mereka menahan segenap anggota badan dari berbuat dosa, sebagaimana mereka menahan diri dari berlebihan mengikuti selera perut atau mengangan-angankan nikmatnya berbuka kalau dengan makanan tertentu (segelas limun dingin, semangkuk kolak hangat, nasi putih panas, sambal, sayur, daging, dan ratusan makanan dan minuman lain yang dapat dibayangkan oleh selera umumnya orang yang saum).

Para guru yang saleh, kalau saum, apabila terbetik keinginan untuk berbuka dengan jenis makanan tertentu, maka pada saat berbuka, mereka tidak akan menyantap makanan tersebut meski dihidangkan bagi mereka secara cuma-cuma.

Mereka Memperhatikan Dengan Seksama Arah Perubahan-perubahan Suasana atau Kecenderungan Jiwa
Setiap kali mereka dapati perubahan suasana dan kecenderungan jiwa yang bisa mengarah kepada menyia-nyiakan atau menggampangkan urusan ibadat, maka segera mereka melawannya dengan membawa jiwa kepada suasana dan kecenderungan lain yang positif. Misalnya dorongan untuk menikmati secara berlebihan makanan berbuka, mereka putuskan dengan melaksanakan dua rakaat shalat, atau membaca beberapa ayat Al-Qur-ān, atau berdzikir dan beristigfar, sebagaimana yang diberitakan dalam sebuah hadis: “Putuskanlah keinginan makan kalian dengan dzikir.”(6)

disadur dari:
Kitab ‘Awārif al-Ma’ārif
Al-Bāb al-Hādiy wa al-Arba’ūn
Fī Ādāb ash-Shawm wa Mahāmihi

(1) Hadis Bukhāriy dan Muslim dari Anas ibn Mālik.

(2) Hadis Bukhāriy dan Muslim.

(3) Hadis Turmudziy dari Abī Hurairah.

(4) Hadis Bukhāriy dan Muslim dari Sahl ibn Sa’d.

(5) Hadis Abū Dāwud dan Turmudziy. ‘Āisyah membenarkan dua orang sahabat Nabi yang berbeda waktu berbukanya; satu berbuka sebelum shalat magrib, yang lainnya sesudah shalat magrib. “Begitulah yang dilakukan Rasūlullāh,” kata ‘Āisyah.

(6) Adzībū tha’āmakum bidz-dzikri. Sumbernya tidak disebutkan oleh Suhrāwardiy, pengarang kitab ‘Awāriful-Ma’ārif, dan kami pun kesulitan untuk menelusurinya.

Selengkapnya...

12 Agustus 2009

AGAR SAUM ITU BAIK

Separo Sya’ban sudah berlalu (selepas malam kamis, 5 Agustus 2009). Ramadhan pun tinggal hitungan hari lagi. Kegembiraan, iman dan kesiapan kita memasuki Ramadhan, menjadi modal penting untuk menuai sukses di dalamnya, dengan saum dan semua kebaikan yang kita kerjakan.

Sabda Rasul SAW.: “Sabar adalah separo iman, dan saum itu separo sabar.”(1)

Firman Allāh: “as-sā-ihūna,” oleh sebagian Muslim difahami sebagai “mereka yang saum”(2); karena dengan menanggung lapar dan dahaga, orang-orang yang saum sebenarnya tengah mengunjungi Allāh Ta’ālā.

Begitu pula orang-orang yang bersaumlah yang dimaksud oleh ayat: “Sesungguhnya hanya mereka yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”(3) Sebab “sabar” adalah nama lain dari saum dan yang akan dituai oleh orang yang saum.

Untuk semua kebaikan saum itu, maka ...

Saum Itu Harus Berlaku Sederhana Dan Cermat Dalam Soal Makan Dan Minum
Yahya ibn Mu’ādz(4) mengatakan: “Ketika murīd (seseorang yang telah memiliki keinginan kuat untuk menempuh jalan Tuhan) dihinggapi oleh berlebih-lebihan dalam soal makan, menangislah Malaikat lantaran sayang kepadanya, sebab siapapun yang terkena penyakit rakus dalam soal makanan, api syahwat pasti akan menggelora, dan nafsunya akan membuat seluruh anggota badannya lemah menghadapi keinginan-keinginan jahat dan malas berbuat kebaikan. Semua itu menjadi senjata yang cukup ampuh bagi Setan untuk menguasainya.”

Namun, apabila murīd berlaku sederhana dan cermat dalam soal apa yang masuk ke perutnya, dan biasa mengosongkan perutnya kecuali sekedar yang dibutuhkan untuk melaksanakan perintah Tuhan, maka kelemahan dan kemalasan akan sirna, begitu pula gelora syahwatnya, dan Setan pun akan tersingkir sejauh-jauhnya.

Dan jika murīd kenyang tanpa mengumbar selera makannya, niscaya badannya menjadi bugar, dan Setan pun akan mudah dikendalikannya.

Memenuhi perut dengan makanan sesuka hati, menjadikan nafs (elemen jahat) membanjiri diri, dan membuat Setan kembali berkuasa atasnya. Sedangkan mengosongkan perut dari makanan berlebihan dan tidak perlu, mengalirkan energi positif rūh ke seluruh tubuh, dan membuat Malaikat kembali memenuhi jiwa dengan berbagai kebaikan.

Namun demikian, Setan tetap akan berusaha mengalahkan orang yang mengosongkan perutnya, dengan rasa kantuk (seperti yang biasa menimpa kita di siang hari bulan Ramadhan. Lantai Masjid dipenuhi tubuh-tubuh yang bergeletakan, dan menguap menjadi kegiatan rutin tambahan yang paling sering terjadi). Kalau yang mengosongkan perutnya saja masih bisa dilemahkan semangatnya dengan kantuk, apalagi yang perutnya penuh? Maka hendaklah murīd bersungguh-sungguh minta tolong kepada Allāh Ta’ālā dalam soal makan dan minum.

Saum Itu Harus Menjaga Lidah Dan Anggota Badan Lainnya Dari Hal-hal Yang Sia-sia
Rasūlullāh bersabda: “Jika kamu saum, jangan berkata keji (rafats) dan jangan mengumbar amarah (shakhb).”(5)

“Siapa yang tidak meninggalkan kata-kata ataupun perbuatan sia-sia (zūr), maka Allāh tidak membutuhkan puasanya.”(6)

Sebagian Muslim memahami keterangan: “Berapa banyak orang yang saum dan yang diperoleh hanyalah lapar dan dahaga saja,”(7) merujuk kepada orang yang menahan diri dalam yang dihalalkan, tetapi berbuka dengan daging sesama lantaran menggunjing orang.

Abū Thālib Al-Makkiy(8) berpendapat bahwa Tuhan menyamakan mendengar-dengarkan kebohongan dengan menyantap makanan atau minuman yang haram, sehingga Dia berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, menyantap yang haram.”(9)

Saum Itu Harus Bisa Mempertahankan Kebaikan Yang Sudah Dicapai
Hafshah puteri ‘Umar ibn l-Khaththāb pernah berkata kepada ayahnya: “Allāh sudah melapangkan rizki anda, menurutku wajar kalau anda menambah lebih banyak ragam makanan, dan mengenakan pakaian yang lebih mewah dari yang biasa anda kenakan.” Jawab ‘Umar: “Aku benar-benar menentang keinginanmu itu! Adakah Rasūlullāh pernah menganjurkannya?” ‘Umar mengulang kata-katanya ini sampai dua kali, lalu dia menangis. Katanya: “Aku kasih tahu kamu, demi Allāh. Rahasia kasih-Nya lebih jelas bagiku dalam hidup yang bersahaja daripada tersembunyinya musibah di balik hidup mewah.”

Allāhu a’lam bish-shawāb. Bagi ‘Umar, musibah atas iman dalam kemewahan sangat sulit diduga ataupun dimengerti. Sedangkan kasih Tuhan dalam kebersahajaan jauh lebih mudah dirasakan. Itulah sebabnya, dia tidak mau meninggalkan kebiasaan hidup bersahajanya, meski dia telah kaya raya. Bagaimana dengan kita? Semoga hidup kita yang sudah baik tidak segampang berubahnya kesabaran orang yang berkosong-kosong perut sepanjang siang, menjadi berlomba-lomba memenuhi perut segera setelah azan magrib. (Masih untung sempat mengaku: “Ya Allāh, semata untuk mengabdi pada-Mu, aku saum; karena hanya pada-Mu, aku beriman; dan hanya dengan rizki-Mu, aku berbuka).

disadur dari:
Kitab ‘Awārif al-Ma’ārif
Al-Bāb at-Tāsi’ wa ats-Tsalātsūn
Fī Fadhl as-Shawm wa Hasani Atsarihi

(1) Hadis “sabar separo iman” diriwayatkan oleh Abū Nu’aim dan Al-Khāthib dari Ibn Mas’ūd; sedangkan hadis “saum separo sabar” diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dan Ibn Mājjah dari Abī Hurairah.

(2) Lihat catatan kaki no.662, ayat 112 surat At Taubah, dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an.

(3) Qur-ān, surat Az Zumar, ayat 10.

(4) Yahya ibn Mu’ādz adalah seorang sufi yang mengajar di Asia Tengah. Salah seorang tokoh pertama yang mengajarkan tasawuf di masjid-masjid. Wafat pada tahun 258H/872M. Meninggalkan sejumlah buku dan kata-kata hikmah. Penekanannya terhadap sikap rajā’ (berharap ampunan dan kasih Tuhan) dibuktikan dengan sifatnya yang dikenal sangat cermat dan berhati-hati dalam beribadat dan urusan-urusan agama.

(5) Hadis Bukhāriy dan Muslim dari Abī Hurairah.

(6) Hadis Bukhāriy dari Abī Hurairah.

(7) Hadis Nasā-iy dan Ibnu Mājjah dari Abī Hurairah.

(8) Abū Thālib Al-Makkiy, Muhammad ibn ‘Aliy (w. 386H/999M). Seorang ulama hadis, ahli hukum Mālikiy, pemimpin tarekat Sālimiyah di Basrah, dan penulis kitab Qūt Al-Qulūb, salah satu karya paling berpengaruh di kalangan tasawuf generasi pertama. Dari kitab ini, Al-Ghazāliy banyak mengambil bahan untuk karyanya, Ihyā`.

(9) Qs. Al-Māidah 42.

Selengkapnya...

30 Juli 2009

UNTUKKU, KAKAKKU, ADIK-ADIKKU


Entah sejak kapan Ibu mulai melantunkan doa yang kemudian kuketahui bagian dari doa Imam ‘Ali Zainal-‘Ābidīn (lahir : 5 Sya’ban 38H). Satu-satunya anak laki-laki dari cucu Rasūlullāh, Husain ibn ‘Ali, yang selamat dalam pertempuran brutal di Karbala melawan balatentara Yazid ibn Mu’awiyyah. Merupakan salah seorang dari sembilan fuqaha salaf terkemuka Madinah, dan waliyullāh yang telah mencapai mukasyafah. Julukan zain al-‘ābidīn (hiasan para hamba) dan as-sajjad (sibanyak sujud) disematkan orang kepadanya karena keteguhannya menjalani hidup yang lurus di saat kezaliman dan bermewah-mewah menjalari hampir seluruh bagian masyarakat, terutama para pejabat Bani ‘Umayyah. Orang-orang banyak mengambil pelajaran mengenai pokok maupun cabang agama darinya, dan ia menjadi teladan yang istimewa dalam ilmu dan sifat-sifat luhur hamba Tuhan Yang Maha Kasih. Pengaruh kebaikannya begitu meresahkan para pemuja kemewahan dunia, hingga menggerakkan mereka membuat konspirasi untuk membunuh sang Imam pada tahun 95H dengan cara licik dan keji.


Tuhan ... karuniailah aku dengan menjaga anak-anakku, menjadikan mereka orang-orang yang baik, dan membuatku bahagia dengan kehadiran mereka.

Tuhan ... panjangkanlah usia mereka, dan tambahkanlah batas ajal mereka. Peliharalah yang masih kecil di antara mereka, dan berilah kekuatan pada yang lemah.

Jagalah kesehatan tubuh, agama dan akhlak mereka, dan jauhkanlah mereka dari segala penyakit dalam jiwa, raga dan dalam segala urusan mereka yang memerlukan perhatianku.

Lancarkanlah rizki mereka melalui tanganku, dan jadikanlah mereka putera-puteri yang selalu berbakti, bertakwa, sehat pandangan, mendengar dan taat kepada-Mu, cinta dan setia kepada wali-wali-Mu, menentang dan membenci musuh-musuh-Mu.

Tuhan ... kuatkanlah dengan mereka lenganku, sempurnakanlah kekuranganku, perbanyaklah pengikutku, perindahlah keberadaanku, dan harumkanlah sebutanku. Cukupkanlah mereka sebagai wakilku di saat ketiadaanku, dan bantulah aku dengan mereka dalam menggapai cita-citaku.

Jadikanlah mereka selalu mencintaiku, santun dan mengasihiku, serta tetap berlaku baik dan mentaatiku. Jangan Kaujadikan mereka pembangkang dan pendurhaka, penentang dan penyeleweng. Dan bantulah aku dalam membesarkan dan mendidik mereka, serta dalam berbuat baik terhadap mereka.

Karuniailah aku lebih banyak lagi putera-puteri, dan jadikanlah itu tambahan kebaikan bagiku. Jadikanlah mereka semua pendukung dalam segenap persoalan yang kumohonkan kepada-Mu.

Lindungilah aku dan keturunanku dari Setan terkutuk. Tuhan ... patahkanlah kekuasaannya atas kami dengan kekuasaan-Mu, dan Kaukerangkeng ia dari kami sehingga kami terpelihara dari tipu dayanya berkat penjagaan-Mu.

Berilah setiap lelaki dan wanita Muslim semua yang kuminta dari-Mu bagi diriku dan anak-anakku. Sesungguhnya Engkau dekat lagi menjawab semua doa, Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Maha Pemaaf lagi Maha Pemberi Ampunan, penuh kasih lagi Maha Penyayang.



Selengkapnya...

22 Juli 2009

HARAPAN DI PENGHUJUNG RAJAB

Hari-hari terakhir Rajab pun berlalu. Tinggal melewati satu bulan Sya’ban, Ramadhan pun akan segera tiba. Bagian terakhir dari doa Imam Ja’far Ash-Shādiq berikut ini, mudah-mudahan mewakili harapan kita dalam menutup Rajab menjelang Ramadhan.


Allāhumma innī as-aluka shabrasy-syākirīna laka
Ya Allāh, kuminta kesabaran orang-orang yang bersyukur kepada-Mu.

Wa’amalal-khā-ifīna mingka
Amal orang-orang yang takut kepada-Mu.

Wayaqīnal-‘ābidīna laka
Dan keyakinan orang-orang yang menghamba kepada-Mu.

Allāhumma antal-‘aliyyul-‘azhīm
Ya Allāh, Engkau Maha Luhur dan Maha Agung.

Wa anā ‘abdukal-bā-isul-faqīr
Adapun aku adalah hamba yang hina lagi sangat rapuh.

Wa antal-ghaniyyul-hamīd
Engkau Maha Kaya lagi Terpuji.

Wa anāl-‘abdudz-dzalīl
Sedangkan aku sahaya yang lemah.

Allāhummam-nun bighināka ‘alā faqrī
Ya Allāh berkatilah dengan kekayaan-Mu kefakiranku.

Wabihilmika ‘alā jahlī
Berkatilah dengan kelembutan kasih-Mu kebodohanku.

Wabiquwwatika ‘alā dha’fī
Dan berkatilah dengan kekuatan-Mu kelemahanku.

Yā qawiyyu yā ‘azīz
Wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Agung.

Allāhumma shalli ‘alā Muhammad wa-ālihil-awshiyā-il-mardhiyyīn
Ya Allāh, limpahkanlah salawat atas Nabi Muhammad beserta keluarganya yang diwasiatkan dan Kauridhai.

Wakfinī mā ahammanī min amrid-dunyā wal-ākhirah
Penuhilah semua kepentinganku dari urusan dunia maupun akhirat.

Yā arhamar-rāhimīn
Wahai Yang Paling Kasih di antara para penyayang.


Selesai sudah rangkaian doa mulia dan indah Imam Ja’far, seperti yang didiktekan oleh ayahku. Semoga memudahkan kita memandu diri dan menghayati hari-hari ke depan, terutama hari-hari Ramadhan yang segera kita jelang. Sukses!


Selengkapnya...

10 Juli 2009

40 Hari Jelang Ramadhan

Kelanjutan Doa Rajab Imam Ja’far Ash-Shādiq (w. 148H/756 M)

Malam senin, 12 Juli 2009, satu demi satu, hari-hari kesepuluh terakhir Rajab pun akan mulai berlalu. Persiapan menyambut Ramadhan pun kira-kira tinggal empat puluh hari lagi. “Siapa saja yang selalu menetapi keadaan ikhlash karena Allāh selama empatpuluh pagi, maka hikmah yang tersingkap pada hatinya akan mengalir melalui lisannya,” begitu sabda Rasul. (Duh, betapa baik dan berartinya seseorang yang hatinya dipenuhi kebenaran dan segenap anggota tubuhnya hanya mengejawantahkan kebenaran itu. Allāh jua yang kuharapkan untuk memberi ganjaran sebesar itu atas amal yang belum sehebat ikhlash selama empatpuluh pagi).




Khābal-wāfidūna ‘alā ghayrika

Menyesallah orang yang bertopang kepada selain-Mu.

Wakhasiral-muta’arridhūna laka

Merugilah orang yang mengadu selain kepada-Mu.

Wadhā’al-mulimmūna illā bika

Sia-sialah orang yang berendah-rendah, kecuali pada-Mu.

Wa ajdabal-muntaji’ūna illā manin-taja’a fadhlaka

Dan gilalah orang yang berharap, kecuali yang berharap kasih-Mu.

Bābuka maftūhul-lir-rāghibīn

Pintu-Mu selalu terbuka bagi siapa saja yang mengharapkannya.

Wakhayruka mabdzūlul-lith-thālibīn

Kebaikan-Mu selalu menyentuh siapa saja yang menginginkannya.

Wafadhluka mubāhul-lis-sā-ilīn

Kemurahan-Mu selalu tersedia bagi siapa saja yang memintanya.

Wanayluka mutāhul-lil-āmilīn

Anugerah-Mu selalu terlimpah bagi siapa saja yang mendambakannya.

Warizquka mabsūthul-liman ‘ashāka

Rizki-Mu selalu tercurah bahkan bagi orang yang bermaksiat kepada-Mu.

Wahilmuka mu’taridhul-liman nāwāka

Kelembutan kasih-Mu selalu menyelimuti bagi siapa saja yang kembali pada-Mu.

‘Ādatukal-ihsānu ilāl-musiy-īn

Kebiasaan-Mu adalah tetap berbuat baik kepada orang yang jahat.

Wasabīlukal-ibqā-u ‘alāl-mu’tadīn

Jalan-Mu adalah tidak memusnahkan orang yang melampaui batas.

Allāhumma fahdinī hudāl-muhtadīn

Ya Allāh, bimbinglah aku dengan bimbingan orang-orang yang terbimbing.

Warzuqnī ijtihādal-mujtahidīn

Karuniailah aku kesungguhan orang-orang yang bersungguh-sungguh.

Walā taj’alnī minal-ghāfilīnal-mub’idīn

Janganlah Kaujadikan aku termasuk orang yang lalai dan dijauhkan dari-Mu.

Waghfirlī yawmad-dīn

Dan ampunilah aku di hari pembalasan.

Selengkapnya...

02 Juli 2009

DOA RAJAB (2)

Berikut kelanjutan doa Rajab yang menurut ayahku bersumber dari Imam Ja’far Ash-Shādiq, putera Muhammad ibn ‘Alī ibn Husain cucu Rasūlullāh (w. 148H/756 M); agar memudahkan kita memandu diri dan menghayati hari-hari di bulan Rajab ini.





Yā mayyamliku hawā-ijas-sā-ilīn

Wahai yang memiliki setiap kebutuhan segenap orang yang meminta.

Waya’lamu dhamīrash-shāmitīn

Dan yang mengetahui isi hati seluruh orang yang membisu.

Likulli mas-alatimmingka sam’a hādhiriwwajawāba ‘atīdi

Setiap permintaan, Kau dengar langsung dan Kau jawab dengan kepastian.

Allāhumma wamawā’īdikash-shādiqah

Ya Allāh, demi kebenaran janji-Mu.

Wa ayādīkal-fādhilah

Dan demi kemuliaan tangan-Mu.

Warahmatikal-wāsi’ah

Serta demi keluasan kasih-Mu.

Fa-as-aluka an taqdhī hawā-ijī lid-dunyā wal-ākhirah

Maka aku memohon kepada-Mu agar terpenuhi segala kebutuhan bagi dunia maupun akhiratku.

Innaka ‘alā kulli syay-ing qadīr

Sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Kuasa.

Selengkapnya...