Dosa kecil sudah cukup untuk menyusahkanmu jika Tuhan menghadapimu dengan keadilan-Nya, namun dosa besar pun tidak pernah dapat menutup peluangmu untuk menjadi baik jika Tuhan menghadapimu dengan kasih-Nya.
(Kutipan dari Hikām Ibn ‘Athā-illāh)
Selengkapnya...
Jangan sampai perasaan begitu besarnya dosa yang telah dilakukan, menghalangimu dari berprasangka baik terhadap Tuhan, sebab siapa yang mengenal Tuhan, maka sebesar apapun dosa adalah kecil di tengah luasnya kemurahan Tuhan.
(Kutipan dari Hikām Ibn ‘Athā-illāh)
Selengkapnya...
Jangan meninggalkan kalimat-kalimat dzikir karena kamu belum selalu ingat kepada Tuhan sewaktu mengulang-ulangnya, sebab kelalaianmu terhadap-Nya ketika tidak berdzikir, lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap-Nya ketika kamu berdzikir. Semoga Tuhan menaikkan derajatmu dari berdzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat kepada-Nya, kemudian dinaikkan pula kepada dzikir yang disertai rasa hadir di hadapan-Nya, lalu dinaikkan lagi kepada dzikir yang disertai kelupaan terhadap segala sesuatu selain-Nya. Yang demikian itu tidak sukar bagi Tuhan.
(Kutipan dari Hikām Ibn ‘Athā-illāh)
Selengkapnya...
Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu bagian dari makrifat, maka jangan kamu hiraukan soal amalmu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakannya bagimu kecuali Dia hendak mengenalkan diri kepadamu. Tidakkah kamu tahu bahwa makrifat itu semata-mata pemberian Tuhan padamu, sedangkan amalmu adalah hadiah darimu, maka dimanakah letak kesebandingannya antara hadiahmu dengan pemberian-Nya?
(Kutipan dari
Hikām Ibn ‘Athā-illāh)
Selengkapnya...
Sebagian tanda bersandar kepada amal, bukan kepada Tuhan, adalah berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Tuhan ketika diri terlanjur melakukan kesalahan.
Selengkapnya...