Sesungguhnya Tuhan memerintahkan kamu semua agar berkeadilan, berkebajikan dan berkepedulian terhadap sesama. Dan Dia membenci setiap kekejian, kemungkaran dan permusuhan!
Tampilkan postingan dengan label 10 POS PERJALANAN MENUJU ALLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 10 POS PERJALANAN MENUJU ALLAH. Tampilkan semua postingan

19 November 2010

Pos Pertama: Albidāyah

Disebut demikian karena penempuh jalan pada pos ini mulai membangun keteguhan jiwa dan memperbaiki perangkat lahirnya.

Tanpa menyelesaikan lintasan-lintasan pada pos ini tidak mungkin dapat sampai kepada pos terakhir dalam perjalanan menuju Allah.

Tahap ini dipandang selesai manakala hamba telah menunaikan perintah Allah dengan ikhlas, menetapi sunnah Rasul, mengagungkan larangan Allah karena takut kepada Allah, menjaga kehormatan dan mengasihi sesama penempuh jalan makrifat dengan nasehat dan membantu mencukupi keperluan mereka, menjauhi pertemanan dan pergaulan yang dapat merusak kontinyuitas wirid dan zikir, dan menjauhi setiap yang menyebabkan rusaknya kondisi hati.

Ikhlas dalam menunaikan perintah Allah dan menetapi sunnah Rasul dalam tahap ini adalah tidak menghitung-hitung jenis amaliah yang diperintahkan, kadar pahalanya maupun kepentingan-kepentingannya, tetapi ditunaikan karena memandang kepada Allah semata.

Pos albidāyah terdiri dari sepuluh lintasan, dimana hamba yang ingin membebaskan diri dari kelalaian dan kebodohan, pertama-tama terjaga dari keterlenaan (inilah lintasan pertama, alyaqzhah), kemudian dia berhenti dari berbuat dosa (inilah lintasan kedua, attawbah), lalu dia memeriksa apa yang dilewatkannya selama ini (lintasan ketiga, almuhāsabah), selanjutnya secara bertahap dia mulai menempuh lintasan-lintasan berikutnya, hingga lintasan kesepuluh, dimana hamba kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan memohon pengampunan serta keuzuran (lintasan keempat, al inābah), kemudian dia bertafakur dan berzikir untuk mendapatkan kembali kemurnian kekuatan-kekuatan batiniah yang selama ini tertutupi (lintasan kelima dan keenam, attafakkur dan attadzakkur), lalu dia berteguh diri dalam takwa dengan penuh kewaspadaan agar tidak kembali terjerumus kepada sifat-sifat jelek (lintasan ketujuh, al i'tishām), selanjutnya dia menjauhi tempat-tempat yang dapat merusak kebaikan yang telah diusahakannya dan hal-hal yang dapat menenggelamkannya dalam riya dan bersenang hati padahal tujuan belum lagi tercapai (lintasan kedelapan, alfirār), terus dia melatih jiwanya dan mengendalikannya agar teguh menunaikan ibadah (lintasan kesembilan, arriyādhah), terakhir dia senantiasa menyimak dengan baik nasehat dan peringatan-peringatan yang diuraikan oleh Allah dalam Alquran yang agung, hadis-hadis yang sahih, dan atsar-atsar orang-orang yang saleh dan banyak berbuat kebaikan (lintasan kesepuluh, assamā’).

bersambung ke lintasan alyaqzhah.

Selengkapnya...

Sepuluh Pos Perjalanan Menuju Allah


Tulisan ini merupakan terjemahan dari karya Alharawi (396-481 H.), yaitu kitab Manāzilus Sā irīn ilāl Haqqil Mubīn, yang dilengkapi dengan penjelasan yang disadur dari kitab-kitab syarh karya Attilmisani (610-690), Alqasani/Alkasyani (wafat tahun 731), Alfarqawi (725-795) dan Allakhmi (lahir tahun 755). Menyangkut istilah-istilah ilmiah dalam terjemahan ini menggunakan kitab karya Alkasyani dan Alqusyayri (376-465).



Kitab Manāzilus Sā irīn ilāl Haqqil Mubīn


Kitab tersebut berisi penjelasan mengenai keadaan-keadaan bersuluk yang terdiri dari seratus tingkatan dalam sepuluh bagian.

Penyusunnya adalah seorang pemuka dalam ilmu hadis, tafsir, bahasa dan tasawuf, yang penjelasannya mengenai hakekat diakui paling lurus dan dapat diterima oleh masyarakat awam maupun para spesialis; beliau adalah Abū Ismā’īl Alharawi, tokoh Khurasan, keturunan sahabat Nabi, Abu Ayyub Al anshari.

Berkenaan dengan karyanya itu, Alharawi mengatakan: “Sudah banyak kitab sejenis yang disusun oleh para ulama terdahulu maupun yang datang belakangan, namun karya-karya tersebut umumnya tidak mencukupi, ada yang menitik beratkan pembahasannya hanya pada hal-hal pokok dan meninggalkan rinciannya, ada yang menyajikan banyak hikayat tetapi tidak menyimpulkan kandungan pelajarannya atau tidak menjelaskan masalah-masalah peliknya, ada yang tidak memisahkan secara jelas antara kondisi ruhaniah bagi para spesialis dengan kondisi umum yang mesti dipenuhi, ada juga yang memasukkan dalam penjelasannya kata-kata orang yang tenggelam dalam suatu keadaan ruhaniah, dan menjadikan rahasia para penyaksi ketuhanan serta rumus-rumusnya sebagai konsumsi umum. Adapun kasus yang paling merata ditemui dalam karya-karya itu adalah tidak dijelaskannya mengenai tingkatan-tingkatan perjalanan menuju Tuhan Alhaqqul Mubīn.”
 

Selengkapnya...